Maharatul Istima’

Kemampuan Menyimak / Mendengarkan …

Yang perlu kita garis bawahi adalah Sering-seringlah mendengarkan Obrolan Bahasa Arab agar kita terbiasa, dan “mendengarkan dengan mendengar sangatlah berbeda”.

Disini saya mempunyai tulisan tentang Istima’  :

A. Implikasi istima’

Implikasi istima’ dalam pelaksanaan pengajaran ialah bahwa guru hendaknya memulai pelajarannya dengan memperdengarkan (sebaiknya secara spontan, tidak dengan membaca) ujaran-ujaran bahasa Arab baik berupa kata-kata maupun kalimat, setidak-tidaknya ketika guru memperkenalkan kata-kata baru, ungkapan-ungkapan baru, atau pola kalimat baru. Manfaat dan aktifitas ini ialah untuk membiasakan murid mendengar ujaran dan mengenal dengan baik tata bunyi bahasa Arab, disamping dapat menciptakan kondisi belajar penuh gairah dan menumbuhkan motivasi dalam diri murid. Hal ini sengaja ditekankan di sini, karena berdasar pengamatan, banyak di antara guru bahasa Arab yang cenderung mengajak murid-muridnya membaca buku teks sejak awal pelajaran.
Secara umum tujuan latihan menyimak adalah agar siswa dapat memahami ujaran dalam bahasa Arab, baik bahasa sahari-hari maupun bahasa yang digunakan dalam forum resmi.

B. Tahap – Tahap latihan istima’

  1. Latihan pengenalan ( identifikasi )

Kemahiran menyimak (istima’) pada tahap pertama bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa Arab secara tepat. Latihan pengenalan ini sangat penting karena sistem tata bunyi bahasa Arab banyak berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang dikenal oleh siswa. Satu keuntungan bagi guru bahasa Arab bahwa umumnya anak-anak Indonesia khususnya yang muslim telah mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab sejak masa kanak-kanak, dengan adanya pelajaran membaca Al-Quran dan shalat. Namun ini tidak mengurangi pentingnya latihan tersebut, karena ternyata pengenalan mereka itu belum tuntas. Ada bunyi bahas Arab yang sama dengan bunyi bahasa pelajar, ada yang mirip dan ada yang sama sekali tidak dikenal (asing).

Berdasarkan kenyataan ini, guru harus memberikan perhatian khusus kepada bunyi-bunyi yang mirip dan yang asing sama sekali bagi pelajar.

Penyajian pelajaran menyimak bisa langsung oleh guru secara Usan, akan tetapi lebih baik kalau guru bisa memakai pita ekaman dengan tape recorder atau di laboratorium bahasa. Rekaman ini penting karena siswa akan mendengarkan model-model ucapan yang benar-benar akurat, langsung dari penutur asli bahasa Arab. Dengan pemakaian pita rekaman ini, guru akan terhindar dari kelelahan dan juga dari kemungkinan kesalahan atau kekurangtepatan dalam ucapan, hal mana kalau sampai terjadi akan mengakibatkan kesalahan ‘turun menurun’.
Latihan mengenal (identifikasi) ini bisa berupa latihan dengar untuk membedakan (discrimination exercises )pengan teknik mengontraskan pasangan-pasangan ucapan yang hampir sama. Misalnya: Guru mengucapkan atau memutarkan rekaman, pelajar diminta menebak, apakah yang didengarnya itu bunyi A atau B. Contoh:
A : أليم

B : عليم

Guru / Rekaman Murid

  1. أليم
  2. عليم
  3. عليم
  4. أليم

Guru memperdengarkan satu set yang terdiri dari 4 – 5 kata atau frasa, sebagian mengandung bunyi bahasa yang ingin dilatihkan. Murid diminta mengidentifikasi dengan menyebut nomor kata-kata yang mengandung bunyi tersebut. Misalnya, untuk mengidentifikasi bunyi (ق) guru memperdengarkan:

  1. مقعد
  2. مقبول
  3. مكتب

Murid merespons dengan menyebutkan angka: satu, dua tiga.
Variasi lain ialah, murid diminta mengidentifikasi apakah pasangan kata yang diperdengarkan oleh guru, fonem pertamanya sama atau berbeda. Misalnya:

Guru / Rekaman Murid

S. جبين – جميل

S. زميل – جمبل

TS. شيمة – صيام

S. مسجد – مسرح

TS. مشكاة – مصباح
Respons siswa bisa dinyatakan dengan berbagai cara :

– bisa secara Jisan, segera setelah model selesai diperdengarkan, baik individual maupun klasikal;

– bisa dengan isyarat jari, misalnya untuk menyatakan angka sati dua atau tiga dan seterusnya; dan

– bisa secara tertulis; untuk kemudian diperiksa oleh guru.

2. Latihan mendengarkan dan menirukan

Walaupun latihan-latihan menyimak bertujuan melatil pendengaran, tapi dalam praktek selalu diikuti dengan latihai pengucapan dan pemahaman, bahkan yang disebut terakhir inilal: yang manjadi rujuan akhir dari latihan menyimak. Jadi setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab melalui ujaran-ujaran yang didengarnya, ia kemudian dilatih untuk mengucapkan dan mamahami makna yang dikandung oleh ujaran tersebut. Dengan demikian pelajaran isrima’sekaligus melatih kemampuan reseptif dan produktif.

Dalam tahap permulaan, siswa dilatih untuk mendengarkan dan menirukan. Kegiatan ini dilakukan oleh guru, ketika memperkenajkan kata-kata atau pola kalimat yang baru, atau dalam waktu yang sengaja dikhususkan untuk latihan menyimak. Latihan menirukan ini difokuskan pada bunyi-bunyi bahasa yang asing bagi siswa, juga pada pengucapan vokal panjang dan pendek, bertasydid dan tidak bertasydid, yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia.

Beberapa contoh:

(a)    Latihan pengucapan bunyi ( ق )

Guru mengucapkan murid menirukan

قلم قلم

قمر قمر

قصد قصد

قدم قدم

(b) Latihan pengucapan beberapa bunyi yang berdekatan.

Guru Siswa

حبر حبر

خبر خبر

(c) Latihan pengucapan vokal panjang dan pendek.

Guru Siswa

بارد بارد

بريد بريد

قابل قابل

قتيل قتيل

(d) Latihan pengucapan vokal bertasydid.

Guru Siswa

كسر كسر

كسّر كسّر

كفر كفر

كفّر كفّر

Latihan-latihan mendengarkan dan menirukan (listen and repeat /الاستماع والترديد ) ini akan lebih efisien dan efektif kalau dilakukan di laboratorium bahasa, sebab berbagai teknik bisa dipraktekkan. Oisamping itu latihan bisa dilakukan secara individual dalam waktu bersamaan, dan siswa dapat membandingkan ucapannya sendiri dengan model ucapan yang ditirunya. Pembetulan ucapan bisa dilakukan oleh siswa secara self correctionلإصلاح الذاتي

3. Latihan mendengarkan dan memahami

Tahap selanjutnya, setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya, latihan menyimak bertujuan agar siswa mampu memahami bentuk dan makna dari apa yang didengarnya itu. Latihan mendengar untuk pemahaman ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik, antara lain:

(a) latihan melihat dan mendengar (انظر واسمع)

Guru memperdengarkan materi yang sudah direkam, dan pada waktu yang sama memperlihatkan rangkaian gambar yang mencerminkan arti dan isi materi yang didengar oleh siswa tadi. Gambar-gambar tersebut bisa berupa film-strip, slide, gambar dinding dan sebagainya.

(b) Latihan membaca dan mendengar (اقرأ واسمع)

Guru memperdengarkan materi bacaan yang sudah direkam dan siswa membaca teks (dalam hati) mengikuti materi yang diperdengarkan. Pada tingkat permulaan, perbendaharaan kata-kata yang dimiliki siswa masih terbatas. Oleh karena itu, harus dipilihkan bahan yang pendek-pendek, mungkin berupa percakapan sehari-hari atau ungkapan-ungkapan sederhana yang tidak terlalu kompleks.

(c) Latihan mendengarkan dan memeragakan ( اقرأ ومثّل)

Dalam latihan ini, siswa diminta melakukan gerakan atau tindakan non verbal sebagai jawaban terhadap stimulus yang diperdengarkan oleh guru. Kegiatan ini tidak terbatas pada ungkapan sehari-hari digunakan oleh guru dalam kelas seperti:

اقرأ – أقفل الكتاب – اجلس – اكتبوا – امسح السبورة – افتح الشباك

Tetapi juga kegiatan-kegiatan yang berlaku di luar kelas yang dapat didemonstrasikan, seperti:

تبكي فاطمة – يضحك فريد – السائق يقود السيارة – الخادم يكنس البلاط

Ketiga jenis latihan yang bam saja disebutkan, adalah latihan permulaan bagi jenis latihan berikutnya, yakni latihan pemahaman ( فهم المسموع ) yang lebih luas.

(d) Latihan mendengarkan dan mamahami

Pada akhirnya, mendengarkan sesuatu adalah untuk memperoleh informasi. Infofmasi itu mungkin tersurat/ekplisit, dinyatakan seeafa jelas. Tetapi mungfcin juga tersirat/implisit, yang memerlukan pengamatan dan penilaian lebih jauh.

Untuk mendapatkan informasi yang akurat, dalam arti tepat dan bermanfaat, seorang penyimak harus pandai-pandai memilih dan mengingat hiana yang penting dan mengabaikan apa yang tidak penting, kemudian mengambil kesimpulan.

Ini berarti bahwa menyimak adalah ketrampilan yang dapat dicapai hanya dehgan latihan-latihan. Tujuan latihan menyimak pada tahap ini ialah agar siswa memiliki ketrampilan memahami isi suatu teks lisan dan mampu secara kritis menangkap isi yang dikandungnya, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Pada tahap ini, kepada siswa diperdengarkan teks lisan (dibacakan langsung oleh guru atau melalui pita rekaman).

Mereka diminta menyimak, memahami dan kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk menguji pemahaman mereka maupun tulisan.

C. Strategi istima’

Beberapa strategi yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran istima’ ini adalah:

1.Strategi satu

Strategi ini bertujuan untuk melatih kemampuan mendengarkan bacaan dan memahami isi bacaannya secara global. Dalam strategi ini yang dibutuhkan adalah rekaman bacaan dan potongan-potongan teks yang terkait dengan isi bacaan tersebut untuk dibagikan kepada siswa. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Bagikan potongan-potongan teks yang dilengkapi dengan alternatif jawaban benar atau salah (B/S).
  2. Perdengarkan bacaan atau nash lewat kaset atau CD dan para siswa ditugaskan untuk menangkap isi bacaan secara umum.
  3. Setelah bacaan selesai, para siswa diminta membaca pernyataan-pernyataan yang telah dibagikan, kemudian memberikan jawaban benar atau salah terhadap pernyataan tersebut. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan isi bacaan yang didengar, berarti benar, dan jika tidak sesuai maka jawabannya salah.
  4. Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan jawabannya
  5. Perdengarkan sekali lagi kaset tersebut agar masing-masing siswa dapat mencocokkan kembali jawaban yang telah di tulis
  6. Berikanlah klarifikasi terhadap semua jawaban tersebut agar semua siswa mengetahui kebenaran dari jawaban mereka masing-masing.

2. Strategi dua

Strategi ini lebih menekankan pada aspek kemampuan memahami isi bacaan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengiringi dalam setiap bacaan tersebut. Langkah-langkahnya adalah:

  • •Perdengarkan nash yang sudah direkam dalam kaset maupun CD.
  • •Mintalah semua siswa untuk mendengarkan dan mencatat hal-hal yang penting
  • •Mintalah semua siswa untuk menjawab soal-soal yang disampaikan pada akhir bacaan tersebut. Jawaban dapat disampaikan secara lisan maupun tertulis
  • •Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan jawabannya (presentasi)
  • •Berikan klarifikasi di akhir sessi terhadap jawaban siswa.

3.Strategi tiga

Strategi ini tidak hanya menitik beratkan pada aspek kemampuan memahami isi bacaan, tetapi juga kemampuan untuk mengungkapkan kembali apa yang sudah didengarnya dengan bahasa sendiri. Langkah-langkahnya adalah:
•Perdengarkan nash yang sudah direkam dalam kaset atau CD.

  • •Tugaskan kepada setiap siswa untuk mencatat kata-kata kuncinya (keyword) sambil mendengarkan
  • •Setelah selesai, para siswa diminta untuk mengungkapkan kembali isi bacaan tersebut dalam bentuk lisan atau tulisan.
  • •Mintalah setiap siswa untuk menyampaikan (mempresentasikan) hasilnya secara bergantian.

Semoga Bermanfaat ….. 🙂

Tahiyyatul ‘Arabiyyah !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s